JUMAT AGUNG ATAU RABU AGUNG


JUMAT AGUNG ATAU RABU AGUNG
(GEORGE & CLARCK JULLIANT BENEDICTS PONGTASIK, 16-03-2018)

Sekarang ini, kita memasuki masa Paska dengan rentetan kegiatan perayaan yang dilakukan untuk merayakannya. Yang terutama dari rentetan itu ada dua yaitu Jumat Agung yang memperingati kematian Kristus dan tentu saja Paskah itu sendiri sebagi perayaan kebangkitan Kristus. Melalui tulisan ini pula saya ucapkan selamat merayakan kematian dan kebangkitan Kristus.
Kematian Kristus atau Jumat Agung, sesuai dengan namanya, selalu diperingati pada hari jumat. Orang Kristen di seluruh dunia meyakini bahwa kematian Kristus terjadi pada hari jumat. Benarkah demikian? Kalau kita memabaca alkitab dengan teliti, khususnya kitab injil, kita dipaksa menarik kesimpulan yang melawan keyakinan yang selama ini dipercaya bahwa peristiwa penyaliban dan kematian Kristus tidak mungkin terjadi pada hari jumat (menarik bahwa hal ini luput dari perhatian, bahkan oleh ahli theologia sekalipun). Jadi sebenarnya peristiwa kematian Kristus terjadi pada hari apa? Mari kita selidiki! Nampaknya kesimpulan untuk menyatakan bahwa kematian Yesus terjadi pada hari jumat ditarik dari ayat Alkitab yang mengatakan Yesus mati sehari sebelum hari sabat.
Keempat kitab injil melaporkan bahwa pada saat subuh hari pertama minggu itu, yakni hari minggu perempuan-perempuan yang dating ke kubur Yesus dengan maksud untuk merempah-rempahi mayat Yesus menemukan bahwa kubur telah kosong. Ketika Yesus masih hidup, saat ahli Taurat dan orang Farisi meminta tanda, Yesus memberikan tanda nabi Yunus sebagai gambaran dari kematian dan kebangkitanNya, yakni mati dan bangkit setelah tiga hari tiga malam. Kalau kita melakukan perhitungan mundur tiga hari tiga malam sesuiai dengan klaim Yesus dari hari minggu pagi saat didapati kubur telah kosong, maka kematian Yesus harusnya terjadi pada hari kamis pagi. Kalau benar bahwa kematian Yesus terjadi pada hari jumat, berarti Yesus telah salah dalam menubuatkan kematianNya sendiri. Semasa hidupNya Yesus sering mengklaim diriNya sebagai Tuhan yang tentu saja memiliki pengetahuan yang sempurna sampai pada hal yang paling detail sekalipun, DIa pasti mengetahui tidak hanya bahwa Dia akan mati dan bangkit tetapi juga mengetahui dengan pasti detail jangka waktu kematianNya. Kalau benar Yesus mati hari jumat, berarti pengetahuan Yesus tidaklah sempurna dan bisa salah. Hal ini penting, kalau Yesus ternyata memiliki pengetahuan yang tidak sempurna berarti Dia tidak lebih dari manusia biasa dan tidak layak mengklaim diri sebagai Tuhan. Kalau benar Yesus mati hari jumat, maka marilah kita berhenti percaya kepadaNya apalagi mempercayakan keselamatan kita kepadaNya.
Tetapi syukur kepada Kristus bahwa Dia sekali lagi membuktikan diriNya selalu benar dan layak mengklaim diri sebagai Tuhan dan alkitab sekali lagi membuktikan diri sebagai firman Allah yang juga selalu benar. Dengan mencermati kisah kematian dan kebangkitan Kristus hal tersebut dapat dibuktikan. Mari kita terusuri satu persatu. Keempat kitab injil melaporkan bahwa kematian Yesus terjadi sehari sebelum hari sabat. Apakah sabat di sini berarti hari ke-7, atau yang kita kenal sebagai hari sabtu? Belum  tentu! Kalau kita baca Imamat pasal 23, kita akan lihat bahwa ada banyak jenis sabat yang dirayakan oleh orang Isarael.
Sebenarnya, melalui pembacaan yang teliti akan kitab injil, dapat diketahui bahwa ada dua hari sabat yang berdekatan saat peristiwa penyaliban Yesus yakni sabat biasa (regular Sabbath) yakni hari ke-7 (sabtu) dan sabat besar (great/special Sabbath) yaitu perayaan hari raya roti tidak beragi yang juga dirangkaikan dengan paskah (paskah di sini terkait dengan perbuatan Allah yang dahsyat melepaskan orang Israel dari Mesir. Injil Yohanes 19:31 melaporkan bahwa penyaliban Yesus terjadi sehari sebelum sabat besar (bandingkan dengan Imamat Pasal 23). Dalam Alkitab terjamahan New International Version (NIV) hal ini sangat jelas (John 19: 31: “Now it was the day of Preparation, and the next day was to be a special Sabbath. Because the Jewish leaders did not want the bodies left on the crosses during the Sabbath, they asked Pilate to have the legs broken and the bodies taken down). Yang perlu diperhatikan disini adalah kata “a special Sabbath”, “sabat yang khusus (terjamahan BIS)”.
Perlu diketahui, perhitungan satu hari satu malam orang yahudi dumulai saat matahari terbenam sampai dengan matahari terbenam hari berikutnya. Selanjutnya dari injil Lukas pasal 23 : 54, disebutkan bahwa Yesus mati pada hari persiapan, yaitu sehari sebelum hari sabat besar (Yoh. 19:31) kemudian dari Injil Matius 19 : 62, diceritakan bahwa pada hari persiapan keesokan harinya (hari persiapan ini mulai dihitung selepas sabat besar yakni jam 6 sore) imam-imam kepala mengahadap Pilatus untuk meminta kubur Yesus dijaga. Kedua ayat ini mempertegas bahwa ada dua hari persiapan yang berdekatan berarti juga ada dua hari sabat yang berdekatan. Selanjutnya, apabila Injil Markus Pasal 16 : 1 dihubungkan dengan Injil Lukas Pasal 23 : 55-56, dapat ditarik kesimpulan bahwa setelah lewat hari sabat pertama (sabat besar) atau pada hari persiapan yang kedua perempuan-perempuan pergi membeli rempah-rempah untuk meminyaki mayat Yesus (Mark 16:1) menyiapkannya di rumah dan keesokan harinya mereka beristirahat pada hari sabat biasa (sabtu) dan pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, yakni hari minggu, mereka pergi ke kubur tetapi mendapati kubur kosong (Lukas 24 : 1-12).
Dari uraian di atas, dapat diurutkan rentetan kejadian secara mundur dari kubur kosong sampai dengan penyaliban sebagai berikut:
1.    Hari minggu pagi, perempuan-perempuan pergi ke kubur dan mendapati kubut telah kosong. Yesus telah bangkit! (Luk 24:1-12)’
2.    Sejak dari jumat magrib sampai sabtu magrib mereka beristirahat karena waktu tersebut adalah hari sabat (sabat biasa) sesuai dengan perhitungan waktu orang yahudi (Luk. 23:56b);
3.    Hari jumat siang atau hari persiapan sebelum sabat biasa, perempuan-perempuan pergi ke pasar membeli rempah dan mempersiapkannya di rumah (Mark 16:1: Luk 23:56a). Hari persiapan dimulai dari hari kamis lepas magrib sampai dengan hari jumat lepas magrib;
4.    Hari kamis lewat magrib, atau memasuki hari persiapan menjelang sabat biasa imam-imam kepala menghadap Pilatus (Mat 19 : 62);
5.    Hari rabu lewat magrib sampai hari kamis magrib adalah hari sabat besar (paska);
6.    Hari rabu pagi Yesus disalibkan, lewat tengah hari mati dan dikubur hari rabu menjelang magrib yaitu pada hari persiapan pertama yakni sehari sebelum sabat besar.
Dari rentetan waktu diatas dapat disimpulkan bahwa Yesus dikubur hari rabu menjelang magrib. Sesuai dengan klaim Yesus bahwa dia akan berada dalam kuburan tiga hari tiga malam berarti Yesus bangkit hari sabtu lewat magrib. Dari uraian diatas, dapat dilihat bahwa ternyata klaim ini terbukti benar. Keempat kitab injil melaporkan bahwa perempuan-perempuan mendapati Yesus bangkit pada minggu pagi. Apakah hal ini merupakan suatu masalah? Bukankah ini berarti Yesus berada di kubur lebih dari tiga hari tiga malam? Bukankah ini berarti nubuat Yesus tentang kebangkitanNya salah? Tidak! Kitab injil mengatakan saat perempuan-perempuan tiba di kubur, kubur telah kosong, kitab injil tidak mengatakan bahwa perempuan-perempuan itu melihat Yesus bangkit saat mereka tiba di kuburan Yesus. Yesus telah bangkit sebelum mereka datang, dan sesuai hitungan-hitungan kita didasarkan pada nubuat Yesus, hal itu terjadi pada hari sabtu lewat magrib. Jadi terbukti bahwa peristwa kematian Yesus terjadi pada hari rabu dan bukan hari jumat, yang ada adalah Rabu Agung bukan Jumat Agung. Hal ini pula sekali lagi menunjukkan bahwa Yesus selalu benar dan Dia layak mengklaim diriNya sebagai Tuhan, dia layak untuk dipercaya. Kita dengan penuh jaminan dapat mempercayakan keselamatan dan masa depan kita kepadanya. Disamping itu, hal ini juga menunjukkan bahwa keempat kitab injil diberikan untuk saling melengkapi dalam harmoni yang luar biasa yang dengan elok dan anggun menyatakan diri sebagai firman Allah yang tidak pernah salah dalam menyatakan kebenaran Allah. Jadi bagaimana sekarang, haruskah rentetan perayaan kematian dan kebangkitan Kristus kita robah? Haruskah perayaan Jumat Agung kita robah menjadi perayaan Rabu Angung.? Hal ini tergantung pada pilihan kita masing-masing. Bagi saya pribadi itu tidak perlu. Kita merayakan makna kematian dan kebangkitan Kristus dan kuasanya yang menyelamatkan dan tidak merayakan hari. Yang menjadi perhatian saya adalah: mengapa terjadi pemahaman keliru yang begitu luas akan hal ini bahkan dikalangan para ahli theologi sekalipun. Menurut saya, salah satu penyebabnya adalah karena iman Kristen sudah mapan, theologi Kristen sudah mapan, tidak lagi menghadapi tantangan yang berat sehingga  sudah berpuas dengan pengetahuan yang dimiliki, merasa diri sudah tahu sehingga tidak ada lagi dorongan untuk berkembang atau untuk terus belajar. Jadi, sekali lagi pilihan ada pada kita masing-masing!
Selamat merayakan penderitaan, kematian dan kebangkitan Kristus!
Salam
George & Clarck Julliant Benedicts Pongtasik

Komentar